Kamis, 05 Juni 2025

Idul Adha dan Etika Penyembelihan


Oleh : Elly Agustina

Hari raya merupakan ekspresi kesyukuran kepada Allah SWT atas tuntasnya jihad jasadi dan juga rohani yang dilakukan (Hidayat, 2008). Islam mensyariatkan dua hari raya bagi umatnya. Yaitu, Idul Fitri dan Idul Adha. Secara historis, kedua hari raya itu saling berkaitan satu sama lain. Keduanya memiliki kesamaan tujuan untuk menumbuhkembangkan sikap empati, simpati, dan peduli terhadap sesama. Idul Fitri dengan zakat fitrahnya sedangkan Idul Adha dengan kurbannya. Hari raya bukan hanya aktifitas ritual tanpa pesan moral. Bukan hanya rutinitas religi, tetapi juga merupakan hari agung yang bermakna luas. Baik secara  sosial kultural atau sosial spiritual, baik secara personal maupun komunal. Spiritual di ranah penghambaan ataupun sosial di ranah pengabdian.

Bila Idul Fitri dirayakan setelah menempuh perlawanan atas nafsu dengan berpuasa satu bulan penuh, maka Idul Adha merupakan bentuk manifestasi dari ketulusan berkorban, keikhlasan untuk melakukan refleksi historis dalam mengenang perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, sekaligus memaknai nilai-nilai spiritual dari sebagian kita yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Banyak sekali pesan moral dan religiusitas yang dapat diambil dari Hari raya Idul Adha. Satu diantaranya adalah prosesi penyembelihan hewan kurban. Dalam penyembelihan hewan, ada etika yang begitu apik diserap nilai pesannya. Dalam sebuah hadits dikatakan “Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelih”.

Islam memberi rambu pada tiap tindakan dan prilaku manusia dalam bingkai kebaikan. Kebaikan yang harus ditumbuhsuburkan, bahkan dalam membunuh sekalipun. Sebuah penelitian menunjukan hasil yang mengejutkan bahwa binatang yang disembelih secara syariat Islam tidak merasakan sakit sama sekali. Penelitian ini dilakukan oleh dua orang staff peternakan dari Hannover University, Jerman, yaitu Prof Wilhelm Schulze dan rekannya Dr. Hazim. Penelitian ini untuk membuktikan tingkat sakit yang dirasakan hewan (sapi) saat dibunuh secara syariat Islam dengan menggunakan pisau tajam tanpa proses stunning (pemingsanan), dan dengan cara barat yakni dengan metode stunning.

Sebuah microchip bernama Electro Encephalograph (EEG), dipasang di permukaan otak yang menyentuh panel rasa sakit, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit. Sedangkan di jantung sapi dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar ketika disembelih.

Syariat Islam tidak menganjurkan metode stunning, sebaliknya metode barat justru menganjurkan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih. Dalam syariat Islam penyembelihan dilakukan dengan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher, yaitu saluran makan, saluran napas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis. Hal ini sama dengan yang dilakukan pada saat pemotongan hewan kurban.

Dari hasil penelitian, penyembelihan menurut syariat Islam, menunjukan rasa sakit hanya pada tiga detik pertama setelah ternak disembelih. Tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti pada setelah tiga detik pertama disembelih ternak tidak merasakan sakit. Kemudian, setelah enam detik pertama ECG pada jantung mencatat bahwa jantung menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Menariknya, pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus dibagian leher, grafik EEG tidak naik, tapi justru turun sampai pada titik nol. Hal ini diterjemah oleh kedua ahli bahwa sapi tidak  merasa sakit sama sekali.

Hal ini juga berdampak pada daging yang dihasilkan. Karena darah ditarik dan dipompa oleh jantung ke luar tubuh secara maksimal, maka proses tersebut menghasilkan daging yang sehat. Jenis daging dari hasil sembelih semacam ini sangat sesuai prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Sedangkan dengan cara stunning, dibius, disetrum, atau dipukul kepalanya dengan menggunakan alat Captive Bolt Pistol (CBV) seperti cara barat, menunjukkan hasil yang sangat berbeda. Sapi yang telah pingsan kemudian disembelih. Lalu tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh sapi. Angka pada grafik EEG meningkat sangat tajam. 

Pada jantung, grafik ECG yang drop ke batas paling bawah, artinya jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh. Oleh karena itu pada saat disembelih darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning. Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itupun membeku di dalam pembuluh darah dalam daging sehingga menyebabkan daging tidak sehat, sehingga menjadi tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Timbunan darah beku yang tidak keluar saat ternak disembelih merupakan media yang sangat baik bagi tumbuhkembangnya bakteri pembusuk yang dapat merusak kwalitas daging.

Demikian diperhatikannya proses penyembelihan hewan ternak oleh Islam, bukan hanya karena tujuan memperoleh kualitas daging yang sehat, namun ada pesan moral di dalamnya. Idul Adha bukan hanya mengajarkan kita berbagi pada sesama, namun juga mengajarkan untuk memuliakan hewan sembelihan. Memperlakukannya dengan ahsan, sehingga kebaikan yang dihasilkan oleh proses pemotongan yang benar akan melahirkan berbagai kebaikan yang lain. 

*Rewrite Opini Elly Agustina yang dimuat pada Harian Lampung Post

Minggu, 20 April 2025

Kartini dan Indonesia Gelap


Kartini dan Indonesia Gelap


Oleh : Elly Agustina

Hari ini, Setiap 21 April, nama Kartini Kembali menggema. Sekolah-sekolah menggelar lomba busana adat, anak-anak perempuan berdandan ala bangsawan Jawa, dan media sosial dipenuhi kutipan-kutipan Kartini yang seolah menyulut semangat perubahan. Namun di balik perayaan yang rutin dan simbolik itu, kita harus jujur menatap realita: Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin, jika Kartini hidup hari ini, ia akan kembali menulis, bukan hanya tentang gelapnya pendidikan perempuan, tapi juga tentang gelapnya bangsa yang kehilangan arah.

Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol perjuangan, pemikiran yang jauh melampaui zamannya. Dalam surat-suratnya, ia menggugat struktur feodal yang menindas perempuan, mempertanyakan ketimpangan, dan membayangkan sebuah masyarakat yang setara. Namun lebih dari itu, Kartini adalah suara dari pinggiran — perempuan pribumi yang berani berpikir merdeka ketika kemerdekaan belum ada dalam kamus bangsa ini

“Habis Gelap Terbitlah Terang” rasanya justru belum relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Apakah kegelapan itu benar-benar sudah berakhir atau hanya semu. Kini, lebih dari seabad sejak kepergiannya, pertanyaan besar pun muncul: Sudahkah cita-cita Kartini tercapai?

Secara kasat mata, jawabannya mungkin iya. Perempuan Indonesia kini bisa bersekolah, bekerja, bahkan menjadi Presiden. Tapi realita di lapangan menyajikan wajah lain. Ketimpangan pendidikan masih tajam, terutama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Perempuan masih menjadi korban kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi yang dibungkus budaya patriarkal. Dan di atas semua itu, kita menghadapi zaman gelap baru: krisis integritas, kebebasan sipil yang terancam, ekonomi yang timpang, dan demokrasi yang makin memudar.

Kartini lahir dalam tatanan feodal kolonial, di mana perempuan pribumi dikurung tradisi dan dipinggirkan dari ruang berpikir. Ia melawan itu dengan pena, dengan kegelisahan, dan dengan mimpi tentang masyarakat yang adil dan setara. Lebih dari satu abad berlalu, apa yang ia perjuangkan belum tuntas. Realitas Indonesia hari ini menunjukkan bahwa gelap itu belum benar-benar sirna, hanya berubah rupa.

Indonesia Gelap mulai digaungkan di mana-mana. Di tengah gemerlapnya pembangunan infrastruktur, meriahnya pesta demokrasi lima tahunan, dan derasnya arus digitalisasi, Indonesia justru memasuki babak gelap dalam sejarah demokrasi dan keadilan sosialnya. Istilah Indonesia Gelap bukan sekadar metafora. Ia kini menjadi cerminan kondisi faktual negeri ini yang tengah kehilangan terang cita-cita reformasi: demokrasi yang bersih, keadilan bagi semua, dan kesejahteraan yang merata.

Kegelapan hari ini bukan hanya milik perempuan. Ini adalah kegelapan sistemik: ketidakadilan struktural, korupsi yang mengakar, serta negara yang gagal melindungi warganya dari kekerasan dan kemiskinan. Dan dalam kegelapan itu, suara-suara yang menyerukan perubahan justru sering disenyapkan, dianggap radikal, bahkan dikriminalisasi. Padahal, jika kita benar-benar belajar dari Kartini, semestinya keberanian untuk bersuara itu dihargai, bukan dihabisi.

Apa arti Hari Kartini di tengah negeri yang lebih sibuk membungkam kritik daripada mendengarkan suara rakyat? Di mana tempat perjuangan perempuan saat lembaga-lembaga negara dikuasai oleh kepentingan politik yang kian pragmatis. Kartini barangkali akan menatap kita dengan kecewa karena gelap yang ia lawan dulu kini menjelma dalam bentuk yang lebih kompleks dan masif.

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung, sepanjang tahun 2023 tercatat 423 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, dan sebagian besar korbannya adalah anak dan perempuan. Di sektor pendidikan, meskipun angka partisipasi sekolah perempuan di tingkat dasar dan menengah sudah cukup tinggi, akses ke pendidikan tinggi dan dunia kerja profesional masih belum merata, terutama di wilayah pedesaan dan kepulauan seperti di Pesisir Barat atau Mesuji.

Kartini hari ini bukan hanya mereka yang mampu menulis atau duduk di kursi pemerintahan. Mereka kini menjelma sebagai guru honorer di daerah yang berjuang dengan gaji di bawah UMR, bidan desa di Tulang Bawang Barat yang menempuh medan berlumpur demi menyelamatkan ibu hamil, para petani perempuan di desa-desa yang harus terus bertahan dengan harga panen yang sangat rendah demi menyambung hidup. Mereka semua mewakili semangat Kartini yang tak pernah mati.

Karenanya, Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan tidak selalu datang dari panggung besar. Ia dimulai dari ruang-ruang sunyi: dari meja tulis, dari ruang kelas, dari obrolan antar sesama perempuan, dari keberanian untuk mengatakan “tidak” pada ketidakadilan. Dan hari ini, perubahan itu harus dilanjutkan.

Indonesia gelap adalah pengingat bahwa terang yang sejati bukan datang dari seremoni tahunan, melainkan dari keberanian kolektif untuk mengubah keadaan. Hari Kartini bukan hanya milik perempuan, tetapi milik semua orang yang percaya pada kemerdekaan, kesetaraan, dan keadilan sosial.

Lampung, dengan seluruh potensi dan tantangannya, bisa menjadi ladang subur bagi lahirnya Kartini-Kartini baru. Tapi itu hanya akan terjadi jika kita berhenti memperingati Kartini secara simbolik dan mulai menghidupi semangatnya secara konkret. Dalam pendidikan, ekonomi, politik, dan hukum—perempuan harus dilibatkan, didengar, dan dipercaya.

Selamat Hari Kartini. Mari kita warisi semangat Kartini dengan keberanian yang sama: melawan gelap, memperjuangkan terang.

Minggu, 30 April 2023

Jurnal Refleksi Lokakarya 7 (Festival Panen Hasil Belajar)

Foto bersama Kepala BGP Lampung





Kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 6 telah memasuki bagian terakhir rangkaian program, yakni Lokakarya 7 yang dilaksanakan dalam 2 hari, Jumat-Sabtu 28-29 April 2023. Kegiatan Lokakarya 7 dilaksanakan di lokasi yang cukup representatif, yakni GOR Sukung Kotabumi Lampung Utara. Kegiatan Lokakarya 7 ini memberikan imbas positif dan kesan yang luar biasa karena pelaksanaannya memadukan kolaborasi, kerja cepat dan tepat, koordinasi dan lain-lain dengan rekan CGP 1 kelompok maupun dengan rekan CGP lainnya. Deskripsi kegiatan Lokakarya 7 ini saya paparkan melalui jurnal refleksi dengan menggunakan model 4P yang telah saya susun.

  • Facts (Peristiwa)

Kegiatan Lokakarya 7 ini  dilaksanakan selama 2 hari dengan agenda atau rangkaian kegiatan sebagai berikut:

Hari Pertama:

Pada hari pertama ini, kami melaksanakan kelas seperti biasanya diawali dengan pembukaan dari Pengajar Praktik kemudian memaparkan tujuan pembelajaran dan kesepakatan belajar. Lalu kami dikelompokkan untuk menuliskan evaluasi Program Pendidikan Guru Penggerak yang terdiri dari aspek panitia, bahan ajar, modul ajar, dan lain-lain. Kegiatan evaluasi ini berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Selepas kegiatan evaluasi, selanjutnya adalah kegiatan berbagi aksi nyata terpilih masing-masing CGP dalam satu kelompok. Pada sesi ini, para CGP mendapatkan banyak inspirasi dan ide dari peserta lain mengenai aksi nyatanya dan tentunya dapat diaplikasikan di sekolah masing-masing. Kegiatan selanjutnya adalah berbagi dampak positif kegiatan CGP yang terdiri dari aspek Kepala Sekolah, rekan sejawat, murid, dan komunitas praktisi. Kegiatan hari pertama ini ditutup dengan persiapan pameran/panen karya hasil pembelajaran PGP. Pada sesi ini kami berkelompok mendesain, mendekorasi, dan menginventarisir apa saja yang akan ditampilkan untuk pameran. Kegiatan ini tentunya memerlukan kolaborasi, kerja cepat dan tepat, koordinasi dalam satu kelompok. Persiapan pameran ini berlangsung sangat luar biasa dan berakhir menjelang petang.

Kelas berbagi hari pertama

Persiapan stand hari pertama


Hari Kedua:

Hari kedua ini merupakan kegiatan pameran panen karya hasil pembelajaran yang merupakan sesi puncak dari kegiatan Pendidikan Guru Penggerak. Semua kelompok menampilkan stand pameran yang luar biasa dan variatif yang tentunya berupa rencana program sekolah serta berbagai aksi nyata yang telah dilaksanakan. Kegiatan hari kedua ini sangat istimewa karena melibatkan tamu undangan seperti Bupati Lampung Utara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Utara, Balai Guru Penggerak Lampung, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, dan lain-lain yang memberikan dukungan serta apresiasi yang luar biasa.

Kegiatan hari kedua diawali dengan pembukaan, sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Utara. Setelah itu, Bupati, Kadis, BGP dan jajarannya berkeliling meninjau semua stand pameran panen karya dan memberikan umpan balik atau apresiasi yang positif. Salah satu hal yang sangat menarik dan inspiratif pada hari kedua ini adalah Kelas Berbagi oleh CGP mengenai aksi nyata yang telah dilakukan yakni dari jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA. Ada pula unjuk aksi dari CGP dalam bentuk tari sigeh pengunten, tari kreasi, puisi dan solo song. 

Foto bersama Kadis Pendidikan Kab. Lampung Utara serta perwakilan Bupati Lampung Utara


Feelings (Perasaan)

Setelah mengikuti kegiatan lokakarya 7 yang berlangsung selama 2 hari ini, saya merasa sangat bersyukur dan bahagia bahwasanya kita dapat saling menginspirasi dan mendapatkan ide-ide mengenai rencana program sekolah dan aksi nyata yang dapat diaplikasikan di sekolah masing-masing. Kegiatan Lokakarya 7 ini memberikan imbas positif dan kesan yang luar biasa karena pelaksanaannya memadukan kolaborasi, kerja cepat dan tepat, koordinasi dan lain-lain dengan rekan CGP 1 kelompok maupun dengan rekan CGP lainnya.

Findings (Penemuan)

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan lokakarya 7 ini, diantaranya adalah saya mendapatkan banyak inspirasi dan ide-ide luar biasa mengenai aksi nyata dan rencana pengembangan sekolah dari rekan CGP lain serta umpan balik dari para pengunjung yang luar biasa dan apresiasi serta dukungan yang positif dari Kepala Sekolah.

Future (Penerapan)

Setelah mengikuti lokakarya 7 ini, ada beberapa hal yang dapat saya terapkan diantaranya:

Semangat berbagi dan berkolaborasi dengan rekan sejawat mengenai program sekolah yang dapat dilaksanakan, mengambil hal/praktik baik dari rekan-rekan CGP yang dapat saya aplikasikan di sekolah, dan mulai menerapkan rencana program sekolah yang telah disusun dan konsisten dalam pelaksanaannya.


Demikian refleksi dari lokakarya 7 yang telah dilaksanakan, tentunya kegiatan lokakarya 7 ini merupakan lokakarya terakhir dan demikian berakhir pula program guru penggerak angkatan 6. Semoga ilmu yang kami dapatkan di pendidikan ini dapat kami terapkan di lingkup sekolah dan masyarakat. Terimakasih saya ucapkan kepada suami saya, dan keluarga yang telah mendukung saya, kepala SMAN 1 Abung Tengah ibu Media Sari Putri, S. Pd, M.M. , fasilitator Bpk Buniamin Farahat, M.T, Pengajar praktek ibu Sinta Larasati, S. Pd, serta seluruh rekan CGP angkatan 6 kelas 12.1, Ibu Qory Harfiah, Ibu Indira Yetti dan ibu Upita Handriyani. Tetap semangat ibu-ibu hebat, karena kita adalah Srikandi di sekolah masing-masing. 

Akhirukalam, 

Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum wr. Wb. 

Salam guru penggerak!! 

Jurnal Refleksi Seluruh Modul 1, 2 dan 3



Assalamu'alaikum, wr. Wb. 

Salam guru penggerak! 

Saya Elly Agustina, S. Pd, guru penggerak angkatan 6 dari Kabupaten Lampung Utara. 

Refleksi yang saya tulis kali ini terkait dengan modul 1.1, 1.2. 1.3, 1.4, 2.1, 2.2, 2.3, 3.1, 3.2, dan 3.3 yang mencakup keseluruhan modul yang pernah saya pelajari di pendidikan guru penggerak angkatan 6. Saya berusaha untuk merefleksikan dengan menggunakan model 4 F (Fact, Feeling, Finding dan Future).

Fact (Peristiwa)

Pendidikan guru penggerak angkatan 6 Kabupaten Lampung Utara dimulai pada tanggal 24 Agustus saat Lokakarya 0 hingga 29 April saat pelaksanaan Lokakarya 7. Beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali mulai modul 1.1 hingga modul 3.3 dimana konsep yang digunakan dalam pendidikan guru penggerak ini menggunakan alur MERDEKA yaitu diawali dengan Mulai dari Diri, dilanjutkan dengan Eksplorasi Konsep; Ruang Kolaborasi; Refleksi Terbimbing; Demonstrasi Kontekstual; Elaborasi Pemahaman; Koneksi Antar Materi; dan ditutup dengan Aksi Nyata.

Pada modul 1.1 berisi tentang paradigma dan memahami filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara serta melakukan refleksi kritis atas hubungan nilai-nilai tersebut dengan konteks pendidikan lokal dan nasional pada saat ini. Kemudian pada modul 1.2 yaitu mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak. Pada modul 1.3 mempelajari visi guru penggerak dengan menerapkan prakarsa perubahan menggunakan model BAGJA diharapkan saya mampu mengembangkan dan mengkomunikasikan visi sekolah yang berpihak pada murid kepada para guru dan pemangku kepentingan. Serta pada modul 1.4 mempelajari bagaimana membangun budaya positif di sekolah.

Dilanjutkan dengan modul 2 yaitu tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Dimulai dari modul 2.1 yaitu tentang pembelajaran berdiferensiasi yang terbagi menjadi 3 yakni diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi adalah untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang berbeda. Pada modul 2.2 saya mempelajari pembelajaran sosial emosional diharapkan saya mampu mengelola emosi dan mengembangkan keterampilan sosial yang menunjang pembelajaran. Kemudian yang terakhir modul 2.3 adalah melakukan praktik komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar seorang coach serta menerapkan praktik coaching sebagai pemimpin pembelajaran.

Pada modul 3 tentang pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah dimulai dari modul 1.3 yaitu saya melakukan praktik pengambilan keputusan yang berdasarkan prinsip pemimpin pembelajaran dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. Kemudian pada modul 3.2 tentang pengelolaan sumber daya di sekolah meliputi pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, waktu, dan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berdampak pada murid. Dan yang terakhir adalah modul 3.3. tentang program yang berdampak positif pada murid dengan cara mengembangkan kegiatan berkala seperti membuat program yang berdampak positif pada murid, memfasilitasi komunikasi murid, orangtua dan guru serta menyediakan peran bagi orangtua terlibat dalam proses belajar yang berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Feeling (Perasaan)

Perasaan saya setelah mengikuti program pendidikan guru penggerak ini sangat senang karena saya mendapat banyak ilmu baru yang merubah paradigma berpikir saya selama ini tentang pendidikan. Bahwa pendidikan tidak hanya sekedar transfer ilmu saja melainkan menuntun anak untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Selain itu pada pendidikan guru penggerak saya juga senang karena mendapat banyak ilmu baru, bagaimana cara mengambil keputusan pada kasus dilema etika, bagaimana cara supervisi akademik yang baik yang menggunakan praktek coaching. Serta bagaimana saya bisa membuat program-program yang berdampak positif pada murid dengan memaksimalkan semua aset yang ada di sekolah.

Finding (Pembelajaran)

Pengetahuan dan pengalaman baru akan diterima oleh saya sebagai calon guru penggerak pemimpin pembelajaran. Salah satu aplikasi nyata bagaimana seorang guru harus menghamba pada anak adalah mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi terhadap pelaksanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pembelajaran yang mengakomodir seluruh kebutuhan peserta didik dari minat, kesiapan belajar dan profil belajar peserta didik.

Future (Penerapan) 

Setelah mempelajari modul 1 hingga modul 3, saya akan melatih diri saya secara terus menerus dengan teknik teknik yang ada dalam modul sehingga menjadi cakap. Tak hanya itu saya juga akan mencoba mengenal dan menganalisis aset, kekuatan, potensi yang dimiliki sekolah maupun yang ada di sekitar sekolah untuk dapat diberdayakan untuk pengembangan sekolah kedepannya. Memanfaatkan aset sekolah secara maksimal untuk dapat digunakan dalam pembelajaran supaya bisa menggali potensi murid. Mencoba berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk dapat menerapkan pendekatan berbasis aset atau kekuatan sehingga dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan khususnya di sekolah saya. Selain itu saya akan terus belajar dan menganalisis tentang program-program yang berdampak positif pada murid. Kemudian saya akan membagikan praktek baik kepada rekan sejawat tentang kepemimpinan murid dan berkolaborasi dengan teman CGP lainnya, kepala sekolah, komunitas praktisi, dan sebagainya dalam menyusun dan membantu melaksanakan program yang berdampak positif pada murid. Serta saya akan selalu berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi sebuah kebiasaan baik yang tentunya dengan tujuan murid akan mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya menjadi murid merdeka sesuai dengan profil pelajar pancasila.

Jurnal Refleksi Lokakarya 6


Assalamualaikum Wr Wb.

Salam guru penggerak , Tergerak-bergerak-menggerakan. 

Saya Elly Agustina, S.Pd, CGP angkatan 6 dari Kabupaten Lampung Utara. Dengan Pengajar Praktek Ibu Sinta Larasati, S.Pd dan Fasilitator Bapak Buniamin Farahat, M.T.

Pada klai ini saya akan merefleksikan kegiatan Lokakarya 6 angkatan 6 kabupaten Lampung Utara dengan Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)
Model ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Model 4F ini dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan).

PERISTIWA
Pada hari sabtu tanggal 1 April 2023 saya mengikuti kegiatan lokakarya yang ke-6 yaitu di SMP IT Insan Robbani Lampung Utara. Kegiatan lokakarya dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB dengan waktu istirahat satu kali yaitu pada pukul 12.00 dan masuk kembali pukul 13.00. Dalam lokakarya ini kami berdiskusi tentang pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dan sejauh mana posisi diri CGP setelah mengikuti program pendidikan guru penggerak.

Pada lokakarya ini saya focus dengan program yang sudah saya rancang melalui tahapan BAGJA yaitu GELIAT (Gerakan Literasi Abung Tengah) . Program ini merupakan program intrakurikuler yang akan dikembangkan di sekolah kami yakni SMAN 1 Abung Tengah, dengan tujuan Keberagaman pembelajaran di kelas dengan media teknologi dan digitalisasi (Pembelajaran berdiferensiasi) Meningkatkan minat baca pada anak Penggunaan gadget pada anak tersalurkan dengan kegiatan yang positif. Mempersiapkan sedari dini perkembangan digital yang akan di hadapi pada masa mendatang. 

PERASAAN
Pada kegiatan lokakarya yang ke-6 perasaan saya sangat senang, bersemangat, dan yang paling menarik adalah adanya rasa penasaran dalam diri saya. Pada saat itu saya ingin sekali mendengarkan paparan program sekolah dari para CGP yang mereka rancang dengan memanfaatkan asset sekolah. Dari paparan yang disampaikan para CGP, saya dapat mengambil hal positif yang dapat saya adopsi untuk diterapkan di sekolah saya.

Kami para CGP dengan bimbingan dari Pengajar Praktik semakin faham bagaimana dalam merancang program sekolah yang dapat mengoptimalkan asset sekolah dan melibatkan murid secara aktif, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, dan sampai dengan kegiatan refleksi.

PELAJARAN

Dari kegiatan lokakarya 6 banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa saya ambil, diantaranya adalah saya lebih memahami tentang bagaimana mengelola program yang berdampak positif pada murid. Selain itu saya juga mampu mengukur diri, sudah sejauh mana dan apa saja yang sudah saya lakukan selama mengikuti program pendidikan guru penggerak ini. Dengan begitu maka saya dapat mengetahui perubahan-perubahan apa saja yang ada dalam diri saya setelah mengikuti program pendidikan guru penggerak ini.

PENERAPAN

Hal penting yang akan saya terapkan untuk menjalankan program ini adalah saya akan melakukan kolaborasi dengan seluruh warga sekolah, memanfaatkan kekuatan sumber daya/asset yang dimiliki sekolah, serta melibatkan murid secara aktif dengan mempertimbangkan suara, pilihan, dan kepemilikan terhadap program games based learning . Langkah konkret dalam mewujudkan program yang berdampak positif pada murid yaitu dengan menggunakan tahapan B-A-G-J-A. Dalam setiap tahapan B-A-G-J-A, saya akan melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid untuk mewujudkan student agency.

Sabtu, 29 April 2023

Jurnal Refleksi dwi mingguan modul 3.3

 



Assalamualaykum wr wb.

Salam Guru Penggerak.

Refleksi dwi mingguan kali ini saya akan menuliskan jurnal dengan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). Model ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Ada empat bagian yang akan saya tuliskan dalam refleksi ini.

1. Fact (Peristiwa)

Modul 3.3 merupakan modul pamungkas yang harus dipelajari dalam rangkaian pelatihan guru penggerak ini. Sama seperti modul sebelumnya, kegiatan pembelajaran pada materi modul 3.3 ini juga dilakukan dalam waktu dua minggu. Dalam modul ini, saya mempelajari materi tentang menyusun sebuah program yang berdampak positif pada murid, cara menumbuhkan student agency (kepemimpinan murid) dengan suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid, lingkungan yang mendukung tumbuh kembang kepemimpinan murid, serta pentingnya melibatkan komunitas untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. Secara umum, saya dapat memahami dan mengimplementasikan materi yang saya pelajari dalam modul ini dengan baik. Meskipun ada beberapa materi masih belum saya kuasai terutama tentang lingkungan yang mendukung tumbuh kembang murid. Namun, saat ruang kolaborasi, kegalauan saya ini terjawab setelah saya berdiskusi dengan rekan-rekan CGP dan fasilitator. Saat sesi ruang kolaborasi, kami diminta untuk membuat sebuah program yang berdampak pada murid. Program yang direncanakan ini juga melihat aset yang dimiliki oleh sekolah serta mampu menumbuhkan kepemimpinan murid dengan melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikian. 

2. Feelings (Perasaan)

Jurnal Refleksi Dwimingguan modul 3.2



 AssalamualaIkum wr wb. 

Salam Guru Penggerak. Saya Elly Agustina, CGP angkatan 6 dari Lampung Utara. 

Refleksi dwi mingguan kali ini saya akan menuliskan jurnal dengan model Driscoll. Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Ada tiga bagian yang akan saya tuliskan dalam refleksi ini.


1. WHAT?

Pada modul 3.2 ini, saya telah mempelajari Pemimpin dalam Pengelolahan Sumber Daya. Pada modul ini dijelaskan bahwa sekolah adalah sebuah ekosistem yaitu bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Ada dua pendekatan yang mempengaruhi ekosistem sekolah yaitu pendekatan berbasis kekurangan dan pendekatan berbasis asset. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Sedangkan Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Pada modul ini saya mengetahui bahwa sekolah memiliki potensi asset yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan berbasis asset. Adapun 7 aset utama sekolah yaitu modal manusia, modal sosial, modal politik, modal agama dan budaya, Modal Fisik, Modal lingkungan/alam dan Modal finansial.

Setelah melewati alur mulai dari diri dan eksplorasi konsep, kami melakukan diskusi dengan menganalisis dua kasus dan saling memberi tanggapan terhadap analisis kasus yang dilakukan oleh teman CGP lain pada alur ekslporasi konsep forum diskusi. Pada alur kolaborasi konsep, kami mencoba berdiskusi dalam kelompok untuk menganalisis seluruh potensi asset yang terdapat di daerah kami yang dapat mempengaruhi perkembangan Pendidikan di sekolah kami sekaligus kebermanfaatannya bagi sekolah.


2. SO WHAT?

Saya merasa senang dan beruntung sekali bergabung dalam program Pendidikan CGP ini karena saya dapat mempelajari modul ini. di sini saya memahami bahwa sekolah adalam sebuah ekosistem yang saling ketergantungan baik itu factor biotik maupun abiotik. Sebelumnya saya pernah menggunakan pendekatan berbasis masalah dalam merancang suatu kegiatan sehingga kegiatan yang akan dilakukan sering gagal karena kenyataan sekolah yang tidak mampu berbuat banyak karena memiliki kekurangan.

3. NOW WHAT?

Sungguh saya tidak akan mendapatkan pengetahuan yang sangat bermanfaat ini, seadainya saya tidak mempelajarai modul 3.2 ini tentang Pemimpin Sebagai Pengelolah Sumber Daya, dan bila saya tidak bergabung di program CGP ini Jika nanti dalam pelaksanaan pembelajaran saya menemukan masalah maka saya akan menggunakan Aset -Based Thinking dalam penyelesaiannya karena pendekatan ini dapat membantu perkembangan kemajuan sekolah.