Kartini dan Indonesia Gelap
Hari
ini, Setiap 21 April, nama Kartini Kembali menggema. Sekolah-sekolah menggelar
lomba busana adat, anak-anak perempuan berdandan ala bangsawan Jawa, dan media
sosial dipenuhi kutipan-kutipan Kartini yang seolah menyulut semangat
perubahan. Namun di balik perayaan yang rutin dan simbolik itu, kita harus jujur
menatap realita: Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin,
jika Kartini hidup hari ini, ia akan kembali menulis, bukan hanya tentang
gelapnya pendidikan perempuan, tapi juga tentang gelapnya bangsa yang
kehilangan arah.
Kartini
bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol perjuangan, pemikiran
yang jauh melampaui zamannya. Dalam surat-suratnya, ia menggugat struktur
feodal yang menindas perempuan, mempertanyakan ketimpangan, dan membayangkan
sebuah masyarakat yang setara. Namun lebih dari itu, Kartini adalah suara dari
pinggiran — perempuan pribumi yang berani berpikir merdeka ketika kemerdekaan
belum ada dalam kamus bangsa ini
“Habis
Gelap Terbitlah Terang” rasanya justru belum relevan dengan kondisi Indonesia
hari ini. Apakah kegelapan itu benar-benar sudah berakhir atau hanya semu. Kini,
lebih dari seabad sejak kepergiannya, pertanyaan besar pun muncul: Sudahkah
cita-cita Kartini tercapai?
Secara
kasat mata, jawabannya mungkin iya. Perempuan Indonesia kini bisa bersekolah,
bekerja, bahkan menjadi Presiden. Tapi realita di lapangan menyajikan wajah
lain. Ketimpangan pendidikan masih tajam, terutama di daerah 3T (Terdepan,
Terluar, Tertinggal). Perempuan masih menjadi korban kekerasan, eksploitasi,
dan diskriminasi yang dibungkus budaya patriarkal. Dan di atas semua itu, kita
menghadapi zaman gelap baru: krisis integritas, kebebasan sipil yang terancam,
ekonomi yang timpang, dan demokrasi yang makin memudar.
Kartini
lahir dalam tatanan feodal kolonial, di mana perempuan pribumi dikurung tradisi
dan dipinggirkan dari ruang berpikir. Ia melawan itu dengan pena, dengan
kegelisahan, dan dengan mimpi tentang masyarakat yang adil dan setara. Lebih
dari satu abad berlalu, apa yang ia perjuangkan belum tuntas. Realitas
Indonesia hari ini menunjukkan bahwa gelap itu belum benar-benar sirna, hanya
berubah rupa.
Indonesia
Gelap mulai digaungkan di mana-mana. Di tengah gemerlapnya pembangunan
infrastruktur, meriahnya pesta demokrasi lima tahunan, dan derasnya arus
digitalisasi, Indonesia justru memasuki babak gelap dalam sejarah demokrasi dan
keadilan sosialnya. Istilah Indonesia Gelap bukan sekadar metafora. Ia
kini menjadi cerminan kondisi faktual negeri ini yang tengah kehilangan terang
cita-cita reformasi: demokrasi yang bersih, keadilan bagi semua, dan
kesejahteraan yang merata.
Kegelapan
hari ini bukan hanya milik perempuan. Ini adalah kegelapan sistemik:
ketidakadilan struktural, korupsi yang mengakar, serta negara yang gagal
melindungi warganya dari kekerasan dan kemiskinan. Dan dalam kegelapan itu,
suara-suara yang menyerukan perubahan justru sering disenyapkan, dianggap
radikal, bahkan dikriminalisasi. Padahal, jika kita benar-benar belajar dari
Kartini, semestinya keberanian untuk bersuara itu dihargai, bukan dihabisi.
Apa
arti Hari Kartini di tengah negeri yang lebih sibuk membungkam kritik daripada
mendengarkan suara rakyat? Di mana tempat perjuangan perempuan saat
lembaga-lembaga negara dikuasai oleh kepentingan politik yang kian pragmatis. Kartini
barangkali akan menatap kita dengan kecewa karena gelap yang ia lawan dulu kini
menjelma dalam bentuk yang lebih kompleks dan masif.
Berdasarkan
data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi
Lampung, sepanjang tahun 2023 tercatat 423 kasus kekerasan terhadap perempuan
dan anak. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, dan sebagian besar
korbannya adalah anak dan perempuan. Di sektor pendidikan, meskipun angka
partisipasi sekolah perempuan di tingkat dasar dan menengah sudah cukup tinggi,
akses ke pendidikan tinggi dan dunia kerja profesional masih belum merata,
terutama di wilayah pedesaan dan kepulauan seperti di Pesisir Barat atau
Mesuji.
Kartini
hari ini bukan hanya mereka yang mampu menulis atau duduk di kursi
pemerintahan. Mereka kini menjelma sebagai guru honorer di daerah yang berjuang
dengan gaji di bawah UMR, bidan desa di Tulang Bawang Barat yang menempuh medan
berlumpur demi menyelamatkan ibu hamil, para petani perempuan di desa-desa yang
harus terus bertahan dengan harga panen yang sangat rendah demi menyambung
hidup. Mereka semua mewakili semangat Kartini yang tak pernah mati.
Karenanya,
Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan tidak selalu datang dari panggung
besar. Ia dimulai dari ruang-ruang sunyi: dari meja tulis, dari ruang kelas,
dari obrolan antar sesama perempuan, dari keberanian untuk mengatakan “tidak”
pada ketidakadilan. Dan hari ini, perubahan itu harus dilanjutkan.
Indonesia
gelap adalah pengingat bahwa terang yang sejati bukan datang dari seremoni
tahunan, melainkan dari keberanian kolektif untuk mengubah keadaan. Hari
Kartini bukan hanya milik perempuan, tetapi milik semua orang yang percaya pada
kemerdekaan, kesetaraan, dan keadilan sosial.
Lampung,
dengan seluruh potensi dan tantangannya, bisa menjadi ladang subur bagi
lahirnya Kartini-Kartini baru. Tapi itu hanya akan terjadi jika kita berhenti
memperingati Kartini secara simbolik dan mulai menghidupi semangatnya secara
konkret. Dalam pendidikan, ekonomi, politik, dan hukum—perempuan harus
dilibatkan, didengar, dan dipercaya.
Selamat
Hari Kartini. Mari kita warisi semangat Kartini dengan keberanian yang sama:
melawan gelap, memperjuangkan terang.
