Minggu, 20 April 2025

Kartini dan Indonesia Gelap


Kartini dan Indonesia Gelap


Oleh : Elly Agustina

Hari ini, Setiap 21 April, nama Kartini Kembali menggema. Sekolah-sekolah menggelar lomba busana adat, anak-anak perempuan berdandan ala bangsawan Jawa, dan media sosial dipenuhi kutipan-kutipan Kartini yang seolah menyulut semangat perubahan. Namun di balik perayaan yang rutin dan simbolik itu, kita harus jujur menatap realita: Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin, jika Kartini hidup hari ini, ia akan kembali menulis, bukan hanya tentang gelapnya pendidikan perempuan, tapi juga tentang gelapnya bangsa yang kehilangan arah.

Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol perjuangan, pemikiran yang jauh melampaui zamannya. Dalam surat-suratnya, ia menggugat struktur feodal yang menindas perempuan, mempertanyakan ketimpangan, dan membayangkan sebuah masyarakat yang setara. Namun lebih dari itu, Kartini adalah suara dari pinggiran — perempuan pribumi yang berani berpikir merdeka ketika kemerdekaan belum ada dalam kamus bangsa ini

“Habis Gelap Terbitlah Terang” rasanya justru belum relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Apakah kegelapan itu benar-benar sudah berakhir atau hanya semu. Kini, lebih dari seabad sejak kepergiannya, pertanyaan besar pun muncul: Sudahkah cita-cita Kartini tercapai?

Secara kasat mata, jawabannya mungkin iya. Perempuan Indonesia kini bisa bersekolah, bekerja, bahkan menjadi Presiden. Tapi realita di lapangan menyajikan wajah lain. Ketimpangan pendidikan masih tajam, terutama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Perempuan masih menjadi korban kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi yang dibungkus budaya patriarkal. Dan di atas semua itu, kita menghadapi zaman gelap baru: krisis integritas, kebebasan sipil yang terancam, ekonomi yang timpang, dan demokrasi yang makin memudar.

Kartini lahir dalam tatanan feodal kolonial, di mana perempuan pribumi dikurung tradisi dan dipinggirkan dari ruang berpikir. Ia melawan itu dengan pena, dengan kegelisahan, dan dengan mimpi tentang masyarakat yang adil dan setara. Lebih dari satu abad berlalu, apa yang ia perjuangkan belum tuntas. Realitas Indonesia hari ini menunjukkan bahwa gelap itu belum benar-benar sirna, hanya berubah rupa.

Indonesia Gelap mulai digaungkan di mana-mana. Di tengah gemerlapnya pembangunan infrastruktur, meriahnya pesta demokrasi lima tahunan, dan derasnya arus digitalisasi, Indonesia justru memasuki babak gelap dalam sejarah demokrasi dan keadilan sosialnya. Istilah Indonesia Gelap bukan sekadar metafora. Ia kini menjadi cerminan kondisi faktual negeri ini yang tengah kehilangan terang cita-cita reformasi: demokrasi yang bersih, keadilan bagi semua, dan kesejahteraan yang merata.

Kegelapan hari ini bukan hanya milik perempuan. Ini adalah kegelapan sistemik: ketidakadilan struktural, korupsi yang mengakar, serta negara yang gagal melindungi warganya dari kekerasan dan kemiskinan. Dan dalam kegelapan itu, suara-suara yang menyerukan perubahan justru sering disenyapkan, dianggap radikal, bahkan dikriminalisasi. Padahal, jika kita benar-benar belajar dari Kartini, semestinya keberanian untuk bersuara itu dihargai, bukan dihabisi.

Apa arti Hari Kartini di tengah negeri yang lebih sibuk membungkam kritik daripada mendengarkan suara rakyat? Di mana tempat perjuangan perempuan saat lembaga-lembaga negara dikuasai oleh kepentingan politik yang kian pragmatis. Kartini barangkali akan menatap kita dengan kecewa karena gelap yang ia lawan dulu kini menjelma dalam bentuk yang lebih kompleks dan masif.

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung, sepanjang tahun 2023 tercatat 423 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, dan sebagian besar korbannya adalah anak dan perempuan. Di sektor pendidikan, meskipun angka partisipasi sekolah perempuan di tingkat dasar dan menengah sudah cukup tinggi, akses ke pendidikan tinggi dan dunia kerja profesional masih belum merata, terutama di wilayah pedesaan dan kepulauan seperti di Pesisir Barat atau Mesuji.

Kartini hari ini bukan hanya mereka yang mampu menulis atau duduk di kursi pemerintahan. Mereka kini menjelma sebagai guru honorer di daerah yang berjuang dengan gaji di bawah UMR, bidan desa di Tulang Bawang Barat yang menempuh medan berlumpur demi menyelamatkan ibu hamil, para petani perempuan di desa-desa yang harus terus bertahan dengan harga panen yang sangat rendah demi menyambung hidup. Mereka semua mewakili semangat Kartini yang tak pernah mati.

Karenanya, Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan tidak selalu datang dari panggung besar. Ia dimulai dari ruang-ruang sunyi: dari meja tulis, dari ruang kelas, dari obrolan antar sesama perempuan, dari keberanian untuk mengatakan “tidak” pada ketidakadilan. Dan hari ini, perubahan itu harus dilanjutkan.

Indonesia gelap adalah pengingat bahwa terang yang sejati bukan datang dari seremoni tahunan, melainkan dari keberanian kolektif untuk mengubah keadaan. Hari Kartini bukan hanya milik perempuan, tetapi milik semua orang yang percaya pada kemerdekaan, kesetaraan, dan keadilan sosial.

Lampung, dengan seluruh potensi dan tantangannya, bisa menjadi ladang subur bagi lahirnya Kartini-Kartini baru. Tapi itu hanya akan terjadi jika kita berhenti memperingati Kartini secara simbolik dan mulai menghidupi semangatnya secara konkret. Dalam pendidikan, ekonomi, politik, dan hukum—perempuan harus dilibatkan, didengar, dan dipercaya.

Selamat Hari Kartini. Mari kita warisi semangat Kartini dengan keberanian yang sama: melawan gelap, memperjuangkan terang.